Kamis, 11 Oktober 2012


Curahan hati anak rantau

kutinggalkan keluarga untuk pergi ke tanah orang
dengan wajah penuh senyum ku berpamitan dengan mama
mencium tangannya yang kasar, ingin ku peluk dan mencium pipinya
tapi ku tak sanggup, aku tak igin kesedihan mengantarkanku pergi
mama berpesan “ hati- hati dan jangn tinggalkan sholat “
aku akan ingat selalu pesan mama
aku menuju terminal bersama kakakku ditemani hujan gerimis yang seakan menangisi kepergianku, sama seperti hatiku yang seakan enggan untuk meningglkan kampung
tapi ini semua demi terwujudnya cita- citaku dan harapan mama agar aku sukses nanti
diterminal aku bertemu temanku yang tlah lama tidak berjumpa
berkat dia aku tidak menangis saat bus berjalan, dia duduk bersamaku, bercerita tentang kabar teman- teman SD kita.
Tidak seperti biasa aku yang selalu menangis jika akan kembali tapi kali ini aku tertawa walaupun sebenarnya hatiku begitu sedih dan takut
sedih karena aku berpisah lagi dan takut karena nasibku di tanah rantau belum jelas
setelah perjalanan panjang kutempuh, dengan lelah ku rebahkan tubuhku dikasur lantai yang tidak layak untuk dijadikan tempat tidur itu.
Baru sejenak kurebahkan tubuhku, pesan singkat datang dari handphoneku yang butut dan mengabarkan bahwa aku tidak mengajar lagi ditempat yang menurutku sangat menolong kehidupanku kedepan sehingga aku bisa berhutang untuk membeli netbook yang nantinya akan dibayar dengan hasi jerih payahku itu, serta mmembayar kuliah lapanganku. Tetapi semua impianku musnah setelah mendapat kabar itu, serasa ditimpa langit yang sangat berat, air matakupun tak terbendung lagi jatuh seberti banjir bandang yang melanda kota probolinggo begitu hebat sampai akupun tak bisa menahan dan baru kali ini aku menangis sejai- jadinya. Hari berikutnya aku mendapat kabar lagi bahwa aku mulai mengajar ditempat lain minggu depan, aku semakin menangis dan sudah lemas badanku ini, sampai akupun tidak nafsu makan. Aku hanya berfikir “ bagaiman hidupku kedepan, mau makan apa aku?” walaupun aku tahu tuhan akan memberikan yang terbaik tapi aku belum sanggup menerima semua ini. Aku pun hanya bisa terdiam diruangan sepetak ini sendirian dan menangis. Berdoa dan terus berdoa agar ujian ini menjadikanku semakin kuat dan dewasa menghadapi semua rintangan walaupun tidak ada keluarga disampingku dan teman- teman yang menolongku, aku harus mengatasi semuanya sendiri dan hanya kepada Allah lah aku mengadu. 
Ya Allah, jadikan hamba ini orang yang sabar dan kuat dalam menerima cobaan ini, semoga hamba termasuk orang yang beriman. Dan semoga hamba selalu diberi kesehatan agar bisa membahagiakan keluargaku termasuk Mama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar