Curahan
hati anak rantau
kutinggalkan
keluarga untuk pergi ke tanah orang
dengan
wajah penuh senyum ku berpamitan dengan mama
mencium
tangannya yang kasar, ingin ku peluk dan mencium pipinya
tapi ku
tak sanggup, aku tak igin kesedihan mengantarkanku pergi
mama
berpesan “ hati- hati dan jangn tinggalkan sholat “
aku akan
ingat selalu pesan mama
aku menuju
terminal bersama kakakku ditemani hujan gerimis yang seakan menangisi
kepergianku, sama seperti hatiku yang seakan enggan untuk meningglkan kampung
tapi ini
semua demi terwujudnya cita- citaku dan harapan mama agar aku sukses nanti
diterminal
aku bertemu temanku yang tlah lama tidak berjumpa
berkat dia
aku tidak menangis saat bus berjalan, dia duduk bersamaku, bercerita tentang
kabar teman- teman SD kita.
Tidak
seperti biasa aku yang selalu menangis jika akan kembali tapi kali ini aku
tertawa walaupun sebenarnya hatiku begitu sedih dan takut
sedih
karena aku berpisah lagi dan takut karena nasibku di tanah rantau belum jelas
setelah
perjalanan panjang kutempuh, dengan lelah ku rebahkan tubuhku dikasur lantai
yang tidak layak untuk dijadikan tempat tidur itu.
Baru
sejenak kurebahkan tubuhku, pesan singkat datang dari handphoneku yang butut
dan mengabarkan bahwa aku tidak mengajar lagi ditempat yang menurutku sangat
menolong kehidupanku kedepan sehingga aku bisa berhutang untuk membeli netbook
yang nantinya akan dibayar dengan hasi jerih payahku itu, serta mmembayar
kuliah lapanganku. Tetapi semua impianku musnah setelah mendapat kabar itu,
serasa ditimpa langit yang sangat berat, air matakupun tak terbendung lagi
jatuh seberti banjir bandang yang melanda kota probolinggo begitu hebat sampai
akupun tak bisa menahan dan baru kali ini aku menangis sejai- jadinya. Hari
berikutnya aku mendapat kabar lagi bahwa aku mulai mengajar ditempat lain
minggu depan, aku semakin menangis dan sudah lemas badanku ini, sampai akupun
tidak nafsu makan. Aku hanya berfikir “ bagaiman hidupku kedepan, mau makan apa
aku?” walaupun aku tahu tuhan akan memberikan yang terbaik tapi aku belum
sanggup menerima semua ini. Aku pun hanya bisa terdiam diruangan sepetak ini
sendirian dan menangis. Berdoa dan terus berdoa agar ujian ini menjadikanku
semakin kuat dan dewasa menghadapi semua rintangan walaupun tidak ada keluarga
disampingku dan teman- teman yang menolongku, aku harus mengatasi semuanya
sendiri dan hanya kepada Allah lah aku mengadu.
Ya Allah,
jadikan hamba ini orang yang sabar dan kuat dalam menerima cobaan ini, semoga
hamba termasuk orang yang beriman. Dan semoga hamba selalu diberi kesehatan
agar bisa membahagiakan keluargaku termasuk Mama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar