Jumat, 28 Desember 2012


Tanggal 18 Desember 2012
Pukul 6 pagi, matahari belum sepenuhnya muncul Saya, Rani dan Tina berangkat ke kampus dengan segala persiapan yang ada, seampainya dikampus saya menaruh tas yang amat berat itu kemudian langsung bergegas menuju pasar Rawamangun untuk mengambil 20 liter air kelapa. Berat itu yang kami asakan saat membawanya karena tak seorang pun membantu kami membawakanya, sampai juga kami di bajaj, dan wusss…go to the campus.
Pukul 9 pagi kami berangkat menuju banten menggunakan bus UNJ yang cukup nyaman, perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 4 jam, saya memandangi sekitar, seperti biasa.
Sampai di sebuah tempat sederhana milik Bapak H. Halbawi dan Ibu Hj. Susi kami disambut baik penuh dengan senyuman, walaupun sederhana namun keramahan dari sang empunya rumahlah yang kami butuhkan.
Langsung kami disediakan makan siang berupa ayam bakar yang lumayan keras beserta lalapan. Kami makan dengan lahapnya. Setelah kenyang kami langsung kerja. Kerja pertama kami memindahkan mesin parut dan alat peras ke bawah, karena permuakaan yang tidak rata saya dan teman- teman mengambil beberapa batu bata dan sebagian mencangkul tanah yang tidak rata namun akhirnya pak haji juga yang mencangkul..hehe
Setelah selesai pekerjaan selanjutnya menanti yaitu mengupas kelapa. Yang pertama kali mengupas kelapa adalah pak adi dosen kami, dengan ahlinya beliau memecah kelapa tanpa kesalahan, utuh tanpa keluar air kelapanya, kata beliau musti S3 dulu baru bisa. Haha kocak
Kemudian Rezki mencoba mengupas kelapa dan hasilnya, Nihil. Kemudian Fadli sama seperti Rezki Nihil. Lalu Tina, wah jago dia bisa mengupas kelapa walaupun ga sesempurna pak adi namun lebih baik dari yang cowok- cowok. Diar pun ikut mencoba dan dia ternyata bisa. Saya jadi ingat masa kecil dulu yang selalu memperhatikan mamaku memecah kelapa, sangat gampang kelihatannya tapi ternyata tak segampang yang dibayangkan mungkin ada faktor kebiasaan.
Kami memecah kelapa hingga pukul 6 sore, kami langsung bergegas untuk bersih- bersih , sholat. Kemudian makan malam yang begitu sedap. Saya mba dwi, fadli dan tyo ikut ke pengajian yang rutin dilaksanakan, ngantuk mendera kami saat mengikuti pengajian. Setelah sholat isya kamipun bersiap untuk istirahat, saya dan mba dwi memilih untuk tidur di kamar walau kamar itu terlihat begitu menyeramkan sampai tidak ada yang berani tidur di kamar itu, tapi karena alasan tertentu kami berdua tidak memperdulikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar